Air Zam-Zam yang Tak Pernah Mengering

2:29 AM
Air Zam-Zam yang Tak Pernah Mengering - Air zam-zam merupakan salah-satu jenis air yang menarik perhatian. Ada banyak pembahasan terkait air yang mengucur di Tanah Suci Mekah tersebut. Salah satunya yakni soal keyakinan air zam-zam tak pernah kering dan habis hingga kini. Ada yang meyakini hal itu sebagai sebuah keajaiban.

Terkait dengan rahasia air zam-zam yang tak pernah habis sudah ada penelitian ilmiah yang mengungkapnya. Dalam buku Sejarah Ka'bah, Kisah Rumah Suci yang Tak Lapuk Dimakan Zaman karya Ali Husni al-Kharbuthl, air zam-zam pernah dibuktikan oleh geolog asal Mesir yang bekerja untuk Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Farouk El-Baz. 

Air Zam-Zam yang Tak Pernah Mengering

Air Zam-Zam yang Tak Pernah Mengering
Air Zam-Zam yang Tak Pernah Mengering

El-Baz pernah menjalankan pemotretan geologis di kawasan Gurun Sahara melalui satelit pada 1973. Kala itu NASA memilih muslim otak pendaratan manusia pertama di Bulan itu sebagai investigator utama Earth Observations and Photography Experiment dalam misi bersama Amerika dan Uni Soviet, Apollo-Soyuz Test Project (ASTP). Misi itu berjalan pada 1975.

Misi ini menekankan pemotretan lingkungan gersang, terutama area Gurun Sahara di Afrika Utara dan Jazirah Arab. Melalui misi ini El-Baz meneliti fitur lain area Bumi dan samudera lainnya.

Menurut buku tersebut, El-Baz juga menganalisis kondisi geografis Mekah dan Madinah. Hasilnya, El-Baz mendapati tanda-tanda adanya lautan air di lapisan bebatuan di bawah Mekah. Menurut buku itu, lautan air tersebut menjadi sumber air zam-zam.

Menurut Peneliti Utama bidang Teknologi Lingkungan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Nusa Idaman Said dari sisi kajian geologi, air zam-zam tak pernah habis diambil lantaran tingkat penggunaannya tak begitu besar.

"Karena untuk minum saja, bukan untuk mandi suci. Paling berapa kalau minum, kita lima liter per hari," kata dia, belum lama ini.

Menurut Nusa, berdasarkan pengukuran kapasitas air zam-zam oleh badan survei geologi Arab Saudi, melalui uji pompa (pumping test) menunjukkan debit air zam-zam mencapai 11-18,5 liter per detik, mencapai 660 liter per menit atau 40 ribu liter per jam. 

Dengan kapasitas air tersebut, ujar Nusa, dengan pemakaian air yang tergolong sedikit hanya untuk minum, wudu. dan pemakaian ringan lainnya, maka wajar bila air zam-zam tak terkuras.

Dalam buku Misteri Kota Makkah dan Madinah karya Teguh Susanto, uji pompa yang pernah dilakukan menunjukkan, air sumur zam-zam bisa pulih setelah disedot hanya dalam 11 menit.

Dalam uji coba pemompaan 8 ribu liter per detik selama lebih dari 24 jam memperlihatkan permukaan air sumur dari awalnya 3,23 meter di bawah permukaan menjadi 12,72 meter dan kemudian menjadi 13,39 meter.

Setelah itu, pemompaan dihentikan, permukaan air zam-zam kembali ke posisi 3,9 meter di bawah permukaan sumur hanya dalam tempo 11 menit usai pemompaan dihentikan.

"Hal ini dipercaya dengan mudah bahwa akifer yang menyuplai air ini berasal dari beberapa celah (rekahan) pada perbukitan di sekitar Mekah," tulis Teguh.

Celah atau rekahan pada sumur zam-zam menjadi salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Teguh menuliskan, ada celah yang memanjang ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 sentimeter dengan ketinggian 30 sentimeter. Selain itu, ada beberapa celah kecil ke arah Safa dan Marwa.

Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30,5 meter. Hingga kedalaman 13,5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori.

Lapisan ini berisi batu pasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.

Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0,5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air ini lah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur zam-zam.

Kedalaman 17 meter ke bawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini (Diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab.

Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju laut Merah.

Keterangan geometris lainnya, celah sumur di bawah tempat Thawaf 1,56 meter, kedalaman total dari bibir sumur 30 meter, kedalaman air dari bibir sumur sama dengan 4 meter, kedalaman mata air 13 meter, dari mata air sampai dasar sumur 17 meter, dan diameter sumur berkisar antara 1,46 hingga 2,66 meter.

Melimpahnya air zam-zam, menurut laman BPPT, juga terkait dengan penjagaan lingkungan sumur yang tergolong rapi. Menurut Badan Survei Geologi Arab Saudi (SGS), kota Mekah yang terletak di lembah menjadi area tangkapan air dengan luas 60 kilometer persegi. Luas tersebut memang tak terlalu luas sebagai cekungan penadah hujan.

Laman BPPT menuliskan, sumber air sumur zam-zam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Mekah.

Sumur ini secara hidrologi hanyalah sumur biasa, sehingga sangat memerlukan perawatan. Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jemaah haji di Mekah.

Pembukaan lahan untuk permukiman di seputar Mekah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.(Portal Islam)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »